Bulang, Prambon — Keberlangsungan Perpustakaan Desa Bulang masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rendahnya minat baca masyarakat hingga keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Hal tersebut disampaikan oleh Nia Andriani selaku Ketua Perpustakaan Desa Bulang.
Menurut Nia, perpustakaan desa sebenarnya memiliki banyak koleksi buku yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun kepedulian terhadap perawatan masih minim.
“Karena prihatin melihat kondisi yang ada. Perpustakaan Desa Bulang sebenarnya sangat banyak buku yang bermanfaat untuk masyarakat tetapi belum banyak yang peduli terkait merawatnya,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa minat baca masyarakat, khususnya orang tua, masih tergolong rendah. Dari kegiatan yang diadakan perpustakaan bersama komunitas PLD Desa Bulang, peserta yang hadir mayoritas ibu-ibu dan anak-anak, sementara remaja masih tergolong minoritas dalam kegiatan literasi.
“Jika dilihat dari kegiatan yang diadakan perpustakaan dan berkolaborasi dengan komunitas PLD Desa Bulang, yang datang kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak. Untuk remajanya hanya minoritas yang minat di bidang literasi,” jelasnya.
Keterbatasan SDM menjadi kendala utama. Pihak pengelola berencana melakukan komunikasi dengan pemerintah desa untuk membahas kelanjutan dan penguatan pengelolaan perpustakaan.
Sementara itu, Dwinta Alfiyatun Nuriyah (Vivi), kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kecamatan Prambon sekaligus penggerak olahraga dan budaya sehat, menegaskan bahwa literasi harus dimulai dari kesadaran bersama.
“Buku adalah jendela ilmu, dan tidak semua anak di desa memiliki akses belajar yang memadai. Perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, termasuk menjaga buku agar tetap bisa dibaca banyak orang,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa di era digital, pemuda memiliki peran strategis untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat kampanye literasi dan membangun pola pikir kritis.
“Teknologi bukan ancaman, tetapi alat. Pemuda harus menjadi contoh dalam menggunakan digital secara cerdas dan produktif.”
Pandangan lebih tegas disampaikan Arif Fatoni, pengusaha muda eduwisata desa sekaligus bagian dari BUMDes. Menurutnya, kondisi literasi saat ini masih jauh dari harapan.
“Membangun kesadaran kolektif tentang membaca buku di era digital ini merupakan tantangan berat. Butuh keterlibatan semua pihak, utamanya pemangku kebijakan. Butuh stimulus, butuh volunteer yang bisa digaji untuk menyuarakan dan menjamu setiap tamu di ruang baca agar tercipta suasana membaca yang menyenangkan,” tegas Fatoni.
Ia menekankan bahwa gerakan literasi tidak cukup hanya mengandalkan semangat sukarela, tetapi memerlukan sistem dukungan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Kolaborasi antara pengelola perpustakaan, pemuda, dan pelaku usaha desa diharapkan mampu memperkuat fungsi perpustakaan sebagai ruang belajar dan pusat aktivitas positif masyarakat Desa Bulang.(ADM)
SEBATIK - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur menyelenggarakan Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten…
MALINAU – Iringan tarian adat Dayak dan nuansa alam Malinau menyambut kedatangan Gubernur Kalimantan Utara…
TANJUNG SELOR – Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Kalimantan Utara (Kaltara), H. Denny Harianto, S.E., M.M.,…
TARAKAN – Komisi II DPRD Kota Tarakan bergerak cepat mencari jalan tengah atas penertiban pedagang…
TARAKAN – Ketua Komisi II DPRD Kota Tarakan, Simon Patino, S.H., secara tegas meminta Dinas…
TARAKAN – Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Utara, Deddy Sitorus, resmi menutup rangkaian…