Categories: KALTARA

Kaltara Minta Kebijakan Penanganan Stunting Tak Diseragamkan Nasional

TANJUNG SELOR – Pemprov Kaltara menegaskan bahwa strategi penanganan stunting di wilayah perbatasan tidak bisa disamakan dengan daerah lain di Indonesia. Letak geografis yang luas, persebaran penduduk yang tidak merata, dan keterbatasan akses antar daerah membuat Kaltara menghadapi tantangan unik dalam menekan angka stunting.

Kepala Bidang Sosial Budaya dan Pemerintahan (Sosbudpem) Bappeda Litbang Kaltara, Mufied Azwar mengatakan bahwa kebijakan nasional terkait percepatan penurunan stunting perlu mempertimbangkan kondisi kontekstual wilayah perbatasan seperti Kaltara.

“Pendekatan penanganan stunting di Kaltara tidak bisa disamakan dengan provinsi lain. Kondisi geografis yang menantang, jarak antardaerah yang jauh, dan keterbatasan infrastruktur membuat kebijakan nasional harus lebih fleksibel,” ujarnya.

Menurut Mufied, kebijakan nasional seharusnya tidak bersifat seragam untuk seluruh provinsi, sebab tiap daerah memiliki karakteristik, tantangan, dan kebutuhan yang berbeda. Dalam pertemuan bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) baru-baru ini, pihaknya bahkan telah menyampaikan langsung kondisi riil di lapangan.

“Kami sudah menyampaikan kepada Kemendagri bahwa pendekatan penurunan stunting di daerah perbatasan perlu disesuaikan. Daerah seperti Kaltara punya keterbatasan akses yang memengaruhi pola intervensi di lapangan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Mufied menjelaskan bahwa penyebab stunting di Kaltara tidak hanya disebabkan oleh asupan gizi yang kurang, tetapi juga oleh faktor lain seperti kualitas tempat tinggal, sanitasi lingkungan, dan rendahnya edukasi masyarakat.

“Masalah stunting di Kaltara ini multidimensi. Bukan semata soal gizi, tapi juga soal sanitasi, lingkungan, pendidikan, dan ekonomi keluarga,” terangnya.

Untuk itu, Pemprov Kaltara mendorong kolaborasi lintas sektor agar intervensi terhadap stunting bisa dilakukan secara menyeluruh. Pendekatan terpadu tersebut dinilai penting agar setiap instansi, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur, dapat berperan aktif dalam menangani akar masalah stunting.

“Kita dorong semua sektor terlibat. Jangan hanya dinas kesehatan yang bergerak. Dinas pendidikan, pekerjaan umum, hingga perumahan rakyat juga harus ikut mengintervensi dari sisi masing-masing,” katanya.

Bappeda Litbang Kaltara juga menekankan pentingnya penerapan metode perencanaan Bottom-Up, agar seluruh masukan dari daerah menjadi dasar bagi penyusunan kebijakan nasional yang lebih berpihak kepada masyarakat perbatasan.

“Harapannya, kebijakan nasional tidak hanya datang dari pusat ke daerah, tapi juga mendengar dari bawah. Supaya arah program benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Kaltara,” pungkasnya. (adv)

Wira

Recent Posts

Pemprov Kaltara Himbau PT. KIPI Serap Tenaga Kerja Lokal

TANJUNG SELOR – Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara)…

14 jam ago

Pemprov Teken Kerjasama Kementerian PPPA, Perkuat Sinergi Program Perlindungan Perempuan dan Anak

TARAKAN – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum menyambut kunjungan…

5 hari ago

Panen Padi Capai Target, Komitmen Penuh Pemerintah Mendukung Swasembada Pangan Nasional

BULUNGAN - Realisasi hasil panen padi tahun 2025 Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) khususnya pada Kabupaten…

6 hari ago

Prof Yuddy Chrisnandi: Gubernur Harus Searah dengan Program Pemerintah Pusat

Gubernur atau kepala daerah tingkat provinsi adalah merupakan instrumen kelembagaan pembangunan yang merupakan kepanjangan Pemerintah…

1 minggu ago

TBM PADU dan TBM GUPER Gelar Outbound Petualangan Literasi di Alam Terbuka

SEBATIK - Kegiatan outbound Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dengan mengusung tema "Membaca Bumi, Merawat Lingkungan"…

1 minggu ago

Fun Run Energi Baru A.07 Dinilai Berpotensi Dorong Pembinaan Atlet Lari Lokal

NUNUKAN – Kegiatan Fun Run Energi Baru A.07 yang digelar di Alun-alun Kota Nunukan, Sabtu…

4 minggu ago