Categories: UMUM

Dari Ujung Negeri Menuju Dunia Digital, Kisah Perempuan Malinau Menembus Batas dengan Gawai Tua dan Harapan

Kala fajar baru saja menyentuh pegunungan hijau di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, suara mesin jahit mulai terdengar dari sebuah rumah kayu sederhana di Desa Long Nawang, Kecamatan Kayan Hulu. Di situlah, Maria Sumbayak (59), seorang ibu tunggal dari tiga anak, duduk di depan mesin jahit tuanya yang telah ia warisi dari ibunya.

HADI ARIS ISKANDAR, Malinau

Maria tak pernah menyangka bahwa dari tempat yang jauh dari pusat kota bahkan lebih dekat ke perbatasan Malaysia daripada ke Jakarta, ia bisa membangun usaha yang kini dikenal luas di media sosial dan marketplace dengan nama “Batik Long Nawang”.

Dulu, jangankan memikirkan digitalisasi, untuk menjual hasil tenunnya saja Maria harus naik perahu kayu ke pasar kecamatan, menempuh perjalanan berhari-hari dengan biaya yang kadang lebih besar daripada pendapatan yang ia bawa pulang.

“Saya pernah pulang bawa hanya dua kilo beras. Karena semua hasil jual tenun habis buat ongkos,” kenangnya sambil menunduk, suaranya bergetar.

“Anak saya nanya, ‘Bu, kita makan apa besok?’ Dan saya nggak bisa jawab.” sambungnya.

Hidup Maria mulai berubah ketika salah satu anaknya yang duduk di bangku SMA pulang membawa kabar bahwa pemerintah daerah bekerja sama dengan komunitas digital mengadakan pelatihan literasi digital untuk UMKM perbatasan.

Dengan gawai tua yang layarnya retak dan koneksi internet yang hanya stabil saat dini hari, Maria mulai belajar cara membuka toko online, mengunggah foto, dan bahkan menggunakan hashtag. Ia menuliskan deskripsi produk dalam bahasa Indonesia dan sedikit Bahasa Malaysia, karena banyak pengunjung akun Instagramnya berasal dari Sabah dan Sarawak.

“Sinyal bagus itu jam dua pagi. Jadi saya sering begadang sambil ngedit foto, belajar dari YouTube, baca chat pelanggan. Kadang sambil menangis karena capek dan ngantuk,” ungkapnya.

Namun jerih payahnya mulai berbuah hasil. Seorang pembeli dari Sabah memesan tenunnya. Lalu pesanan datang dari Jakarta, Bali, dan bahkan Batam. Produk lokal dari Malinau, yang selama ini tersembunyi di balik hutan dan sunyi, kini menjangkau pulau-pulau lain.

Kini, tenun karya Maria telah masuk ke berbagai platform digital seperti Tokopedia, Shopee, dan Instagram. Ia juga kerap diundang dalam sesi live streaming UMKM yang diadakan oleh pemerintah provinsi.

Omzet bulanannya sudah mencapai belasan juta rupiah dimana lebih besar dari penghasilan suaminya dulu sebelum meninggal dunia.

“Yang dulu hanya mimpi, sekarang jadi nyata. Saya bisa bayar sekolah anak, bisa renovasi rumah. Bahkan saya beli mesin jahit baru, bukan bekas,” katanya sambil tersenyum bangga.

Lebih dari itu, Maria kini melibatkan ibu-ibu lain di desanya. Ia melatih lima perempuan Dayak untuk ikut menenun, membentuk kelompok kerja kecil yang kini disebut Perempuan Anyaman Perbatasan. Mereka berbagi penghasilan, berbagi kisah, dan berbagi harapan.

Kabupaten Malinau, salah satu daerah perbatasan yang seringkali terlupakan dalam peta ekonomi nasional, mulai bangkit lewat tangan-tangan kreatif seperti Maria. Internet mungkin masih terbatas, jalanan masih sulit dilalui saat musim hujan, tapi tekad warga seperti Maria tak pernah kecil.

Digitalisasi bagi mereka bukan sekadar tren malainkan penyelamat. Ia menjadi alat untuk keluar dari isolasi, dari kesunyian ekonomi yang lama membekap.

Maria masih menyimpan foto pertama tenunnya yang laku di marketplace. Bukan karena cantik, tapi karena itu adalah saksi bahwa seseorang dari daerah paling pinggir pun bisa menyentuh dunia asal diberi peluang dan mau berjuang.

Dari rumah kayu yang dikelilingi hutan tropis Kalimantan, Maria Sumbayak kini menatap masa depan dengan kepala tegak. Ia membuktikan bahwa walau tinggal di ujung negeri, dengan koneksi terbatas dan alat seadanya, perempuan Malinau bisa berdiri di panggung yang sama dengan pelaku usaha kota besar.

“Saya bukan siapa-siapa. Tapi sekarang saya bisa bantu orang lain. Itu yang bikin saya merasa besar,” katanya, kali ini dengan air mata bahagia. (***)

Wira

Recent Posts

Anak-Anak TBM Al Farabi Sidoarjo Ikuti QIRA

Berikan Pemahaman Nilai-Nilai Al-Qur’an, dan Meneladani Akhlak Rasulullah Lewat Cerita SIDOARJO - TBM Al Farabi,…

3 hari ago

Sulap Barang Bekas Jadi Kostum Karnaval yang Bikin Jalan Pucang Semarak

SIDOARJO – Semangat kemerdekaan terasa berbeda di Kelurahan Pucang, Kecamatan Sidoarjo. Warga menggelar rangkaian perayaan…

6 hari ago

Warga RW 04 Dusun Tangunan dan Mahasiswa UMM Saling Belajar

SIDOARJO – Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Bulang,…

2 minggu ago

Dari Bermain hingga Mendongeng, Play On Anak Krian 2 Hidupkan Literasi Anak Krian

KRIAN, SIDOARJO - Play On Anak Krian 2 menghadirkan ruang belajar alternatif bagi anak melalui…

3 minggu ago

Literasi Tak Cukup Dibaca, Gol A Gong dan Muhari AS Dorong Mahasiswa Berkarya

BANGKALAN — Budaya literasi di lingkungan perguruan tinggi kembali menjadi perhatian melalui Seminar Nasional bertajuk…

4 minggu ago

Menjaga Ilmu, Menumbuhkan Karakter: Ikhtiar Pendidikan bagi 11 Anak Yatim Dhuafa

SIDOARJO — Pendidikan nonformal menjadi salah satu ruang penting dalam membantu anak-anak mendapatkan pendampingan belajar…

1 bulan ago