{"id":4159,"date":"2025-04-17T10:43:00","date_gmt":"2025-04-17T02:43:00","guid":{"rendered":"https:\/\/literasidata.com\/?p=4159"},"modified":"2025-04-17T18:44:48","modified_gmt":"2025-04-17T10:44:48","slug":"dari-ujung-negeri-menuju-dunia-digital-kisah-perempuan-malinau-menembus-batas-dengan-gawai-tua-dan-harapan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/literasidata.com\/?p=4159","title":{"rendered":"Dari Ujung Negeri Menuju Dunia Digital, Kisah Perempuan Malinau Menembus Batas dengan Gawai Tua dan Harapan"},"content":{"rendered":"\n<p>Kala fajar baru saja menyentuh pegunungan hijau di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, suara mesin jahit mulai terdengar dari sebuah rumah kayu sederhana di Desa Long Nawang, Kecamatan Kayan Hulu. Di situlah, Maria Sumbayak (59), seorang ibu tunggal dari tiga anak, duduk di depan mesin jahit tuanya yang telah ia warisi dari ibunya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>HADI ARIS ISKANDAR<\/strong>, <em>Malinau<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Maria tak pernah menyangka bahwa dari tempat yang jauh dari pusat kota bahkan lebih dekat ke perbatasan Malaysia daripada ke Jakarta, ia bisa membangun usaha yang kini dikenal luas di media sosial dan marketplace dengan nama \u201cBatik Long Nawang\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Dulu, jangankan memikirkan digitalisasi, untuk menjual hasil tenunnya saja Maria harus naik perahu kayu ke pasar kecamatan, menempuh perjalanan berhari-hari dengan biaya yang kadang lebih besar daripada pendapatan yang ia bawa pulang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya pernah pulang bawa hanya dua kilo beras. Karena semua hasil jual tenun habis buat ongkos,\u201d kenangnya sambil menunduk, suaranya bergetar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAnak saya nanya, \u2018Bu, kita makan apa besok?\u2019 Dan saya nggak bisa jawab.\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hidup Maria mulai berubah ketika salah satu anaknya yang duduk di bangku SMA pulang membawa kabar bahwa pemerintah daerah bekerja sama dengan komunitas digital mengadakan pelatihan literasi digital untuk UMKM perbatasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan gawai tua yang layarnya retak dan koneksi internet yang hanya stabil saat dini hari, Maria mulai belajar cara membuka toko online, mengunggah foto, dan bahkan menggunakan hashtag. Ia menuliskan deskripsi produk dalam bahasa Indonesia dan sedikit Bahasa Malaysia, karena banyak pengunjung akun Instagramnya berasal dari Sabah dan Sarawak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSinyal bagus itu jam dua pagi. Jadi saya sering begadang sambil ngedit foto, belajar dari YouTube, baca chat pelanggan. Kadang sambil menangis karena capek dan ngantuk,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun jerih payahnya mulai berbuah hasil. Seorang pembeli dari Sabah memesan tenunnya. Lalu pesanan datang dari Jakarta, Bali, dan bahkan Batam. Produk lokal dari Malinau, yang selama ini tersembunyi di balik hutan dan sunyi, kini menjangkau pulau-pulau lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini, tenun karya Maria telah masuk ke berbagai platform digital seperti Tokopedia, Shopee, dan Instagram. Ia juga kerap diundang dalam sesi live streaming UMKM yang diadakan oleh pemerintah provinsi.<\/p>\n\n\n\n<p>Omzet bulanannya sudah mencapai belasan juta rupiah dimana lebih besar dari penghasilan suaminya dulu sebelum meninggal dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYang dulu hanya mimpi, sekarang jadi nyata. Saya bisa bayar sekolah anak, bisa renovasi rumah. Bahkan saya beli mesin jahit baru, bukan bekas,\u201d katanya sambil tersenyum bangga.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih dari itu, Maria kini melibatkan ibu-ibu lain di desanya. Ia melatih lima perempuan Dayak untuk ikut menenun, membentuk kelompok kerja kecil yang kini disebut Perempuan Anyaman Perbatasan. Mereka berbagi penghasilan, berbagi kisah, dan berbagi harapan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kabupaten Malinau, salah satu daerah perbatasan yang seringkali terlupakan dalam peta ekonomi nasional, mulai bangkit lewat tangan-tangan kreatif seperti Maria. Internet mungkin masih terbatas, jalanan masih sulit dilalui saat musim hujan, tapi tekad warga seperti Maria tak pernah kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>Digitalisasi bagi mereka bukan sekadar tren malainkan penyelamat. Ia menjadi alat untuk keluar dari isolasi, dari kesunyian ekonomi yang lama membekap.<\/p>\n\n\n\n<p>Maria masih menyimpan foto pertama tenunnya yang laku di marketplace. Bukan karena cantik, tapi karena itu adalah saksi bahwa seseorang dari daerah paling pinggir pun bisa menyentuh dunia asal diberi peluang dan mau berjuang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari rumah kayu yang dikelilingi hutan tropis Kalimantan, Maria Sumbayak kini menatap masa depan dengan kepala tegak. Ia membuktikan bahwa walau tinggal di ujung negeri, dengan koneksi terbatas dan alat seadanya, perempuan Malinau bisa berdiri di panggung yang sama dengan pelaku usaha kota besar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya bukan siapa-siapa. Tapi sekarang saya bisa bantu orang lain. Itu yang bikin saya merasa besar,\u201d katanya, kali ini dengan air mata bahagia. (***)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kala fajar baru saja menyentuh pegunungan hijau di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, suara mesin jahit mulai terdengar dari sebuah rumah kayu sederhana di Desa Long Nawang, Kecamatan Kayan Hulu. Di situlah, Maria Sumbayak (59), seorang ibu tunggal dari tiga anak, duduk di depan mesin jahit tuanya yang telah ia warisi dari ibunya. HADI ARIS ISKANDAR, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4160,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4159","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/literasidata.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG-20250417-WA0017.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4159","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4159"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4159\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4161,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4159\/revisions\/4161"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4160"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4159"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4159"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4159"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}