{"id":4138,"date":"2025-04-17T08:12:00","date_gmt":"2025-04-17T00:12:00","guid":{"rendered":"https:\/\/literasidata.com\/?p=4138"},"modified":"2025-04-17T18:14:07","modified_gmt":"2025-04-17T10:14:07","slug":"walau-hidup-di-sungai-pedalaman-kalimantan-tetap-ikut-arus-zaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/literasidata.com\/?p=4138","title":{"rendered":"Walau Hidup di Sungai Pedalaman Kalimantan, Tetap Ikut Arus Zaman"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>MALINAU<\/strong> \u2013 Di sebuah pagi yang tenang di tepian Sungai Sesayap, suara mesin ketinting terdengar memecah keheningan. Perahu kayu bermuatan penuh ikan hasil tangkapan semalam merapat perlahan ke dermaga kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari balik kemudi, seorang lelaki paruh baya dengan kulit legam terbakar matahari melempar senyum kepada pembeli yang sudah menanti. Namanya Junaidi, nelayan asal Desa Tanjung Lapang, Kabupaten Malinau.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun bukan hanya ikan segarnya yang membuat pelanggan berdatangan. Junaidi kini dikenal luas sebagai \u201cNelayan QRIS\u201d. Julukan yang ia peroleh sejak mulai menjual ikannya menggunakan sistem pembayaran digital QRIS dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAwalnya saya bingung, masa iya jual ikan bisa dibayar pakai HP?\u201d katanya sambil tertawa, matanya menyipit terkena sinar matahari pagi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTapi anak saya bilang, sekarang jamannya serba digital. Jadi saya coba daftar QRIS BRI.\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Keputusan sederhana itu ternyata membawa perubahan besar dalam cara Junaidi berjualan. Sejak mulai menggunakan QRIS awal tahun ini, pendapatannya lebih stabil, transaksi lebih cepat, dan pembelinya makin beragam. Ia tak lagi repot menyediakan uang kembalian atau mencatat penghasilan di buku lusuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak butuh waktu lama bagi inovasi Junaidi ini menarik perhatian warga sekitar. Dari ibu rumah tangga, pegawai kantor kecamatan, hingga anak-anak muda yang terbiasa cashless, semua mulai berdatangan ke lapak sederhana miliknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap ikan yang dijual mulai dari ikan baung, Patin, Salap hingga udang sungai dilengkapi dengan papan harga dan satu kode QR besar dari BRI yang ia laminating sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSekarang hampir tiap hari ada yang bayar pakai QRIS. Kadang dari orang kampung sebelah, bahkan dari Tanjung Selor dan Tarakan juga ada,\u201d ujar Junaidi bangga.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKatanya mereka penasaran, masa iya di pelosok begini bisa pakai QR.\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Maria, seorang guru SD di Malinau, mengaku lebih senang berbelanja ke Junaidi sejak adanya QRIS.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya jarang bawa uang tunai. Jadi kalau ke pasar atau dermaga, yang bisa pakai QRIS itu lebih praktis. Lagi pula, ikan Pak Jun juga segar-segar.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang membuat kisah Junaidi menarik adalah perpaduan antara teknologi dan kearifan lokal. Ia tetap setia mencari ikan menggunakan perahu kayu warisan orang tuanya, menjaring ikan dengan cara tradisional, dan menjaga ekosistem sungai agar tetap lestari. Namun, di saat yang sama, ia terbuka dengan perkembangan zaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Pihak BRI pun memberikan dukungan penuh. Melalui program inklusi keuangan dan digitalisasi UMKM, mereka secara aktif menyosialisasikan penggunaan QRIS kepada pelaku usaha kecil, termasuk para nelayan sungai.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKami sangat bangga dengan Pak Junaidi. Beliau bukan hanya pengguna, tapi juga contoh nyata bahwa transformasi digital itu bisa menjangkau hingga ke pelosok negeri,\u201d kata Arief, Kepala BRI Tarakan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKami berharap semakin banyak nelayan dan pedagang yang mengikuti jejak beliau.\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini, setiap kali Junaidi menepikan perahunya, ia membawa bukan hanya hasil tangkapan, tapi juga semangat baru tentang bagaimana teknologi bisa menjadi kawan bagi nelayan kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan catatan transaksi yang otomatis tercatat lewat aplikasi, Junaidi kini bisa menyusun perencanaan keuangan, bahkan mulai menabung untuk memperbaiki perahunya yang mulai rapuh dimakan usia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya nggak pernah bayangkan bakal jualan kayak gini. Dulu cuma bawa ember, gelar tikar, kasih harga. Sekarang? Tinggal scan, masuk rekening,\u201d katanya sembari menunjukkan senyum lebar, memperlihatkan gigi yang tak lagi lengkap.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah deru pembangunan kota dan derasnya arus digitalisasi nasional, kisah Junaidi menjadi pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari tepian sungai di pedalaman Kalimantan Utara.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia bukan pengusaha besar, bukan lulusan kampus ternama. Ia hanya nelayan yang tak takut mencoba, dan percaya bahwa walau hidupnya di sungai, ia tetap bisa ikut arus zaman.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya cuma ingin hidup lebih baik, anak-anak bisa sekolah, dan orang-orang bisa beli ikan saya dengan mudah. Ternyata caranya ya\u2026 tinggal scan aja.\u201d katanya. (*\/hai)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MALINAU \u2013 Di sebuah pagi yang tenang di tepian Sungai Sesayap, suara mesin ketinting terdengar memecah keheningan. Perahu kayu bermuatan penuh ikan hasil tangkapan semalam merapat perlahan ke dermaga kecil. Dari balik kemudi, seorang lelaki paruh baya dengan kulit legam terbakar matahari melempar senyum kepada pembeli yang sudah menanti. Namanya Junaidi, nelayan asal Desa Tanjung &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4139,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-4138","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bisnis"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/literasidata.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_20250417_181247.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4138","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4138"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4138\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4140,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4138\/revisions\/4140"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4138"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4138"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4138"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}