{"id":4119,"date":"2025-04-15T14:49:00","date_gmt":"2025-04-15T06:49:00","guid":{"rendered":"https:\/\/literasidata.com\/?p=4119"},"modified":"2025-04-16T16:52:54","modified_gmt":"2025-04-16T08:52:54","slug":"ketika-harapan-itu-kembali-datang-lewat-genggaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/literasidata.com\/?p=4119","title":{"rendered":"Ketika Harapan Itu Kembali Datang Lewat Genggaman"},"content":{"rendered":"\n<p>Di tengah hamparan bukit hijau di Kabupaten Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, tinggal seorang ibu bernama Baweng Usat. Ia membesarkan dua anak seorang diri setelah suaminya meninggal lima tahun lalu. Untuk bertahan hidup, ia menjual kue dan sayur-sayuran hasil kebun kecil di depan rumah.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Setiap hari saya bangun jam empat pagi, masak, berdoa, lalu mulai berjualan,&#8221; ceritanya dengan suara lirih. \u201cUangnya pas-pasan, tapi saya selalu bilang ke anak-anak: kita mungkin kecil, tapi hati kita besar.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Anak sulungnya, Steven, kuliah di Tarakan dengan beasiswa. Setiap akhir bulan, Steven berusaha mengirimkan sedikit uang untuk membantu ibunya. Namun prosesnya tak selalu mudah. Baweng harus menumpang motor tetangga, dua jam ke kota, antre lama, lalu pulang tanpa kepastian karena sistem offline.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPernah saya sudah jauh-jauh ke kota, uang belum dikirim. Saya pulang sambil menangis. Bukan cuma capek, tapi juga malu karena titip anak ke tetangga, ninggalin dagangan,\u201d kenangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Titik balik datang saat Steven pulang libur semester dan memperkenalkan BRImo ke ibunya. Dengan penuh kesabaran, ia mengajarkan ibunya cara menggunakan aplikasi itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya sempat takut. Takut salah pencet, takut uang hilang. Tapi Steven bilang, &#8216;Bu, ini akan bantu Ibu hidup lebih mudah,\u2019\u201d ujar Baweng.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan benar saja. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia menerima uang hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya lihat notifikasi masuk, lalu saya menangis. Tapi kali ini, air mata bahagia,\u201d katanya sambil tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini, Baweng bisa membeli kebutuhan dagangan, bayar listrik, beli pulsa, dan bahkan top-up e-wallet anak bungsunya\u2014semua dari rumah. Ia bahkan mulai menerima pembayaran lewat QRIS dari para pelanggan muda yang sering jajan di lapaknya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya merasa jadi bagian dari dunia baru. Saya yang dulu gaptek, sekarang bisa bantu tetangga transfer uang,\u201d katanya, tertawa kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah wajah nyata dari langkah BRILian BRI lewat BRImo. Bukan sekadar aplikasi, tapi gerbang harapan. Teknologi ini menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dasar, membuat hidup jadi lebih mudah, memberi ruang bagi martabat, dan menyalakan kembali harapan yang sempat padam.<\/p>\n\n\n\n<p>Lewat BRImo, BRI membuktikan bahwa digitalisasi bukan hanya milik kota, tapi milik semua rakyat Indonesia\u2014dari pusat bisnis Jakarta, hingga dapur kecil seorang ibu di Alor.<br>Karena memberi makna untuk Indonesia bukan soal besar-kecilnya langkah, tapi seberapa dalam langkah itu menyentuh hati. Dan bagi Ibu Baweng, langkah itu kini selalu ada\u2026 dalam genggaman. (*\/hai)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah hamparan bukit hijau di Kabupaten Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, tinggal seorang ibu bernama Baweng Usat. Ia membesarkan dua anak seorang diri setelah suaminya meninggal lima tahun lalu. Untuk bertahan hidup, ia menjual kue dan sayur-sayuran hasil kebun kecil di depan rumah. &#8220;Setiap hari saya bangun jam empat pagi, masak, berdoa, lalu mulai berjualan,&#8221; &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4120,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-4119","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bisnis"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/literasidata.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/hai7.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4119","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4119"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4119\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4121,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4119\/revisions\/4121"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4120"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4119"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4119"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/literasidata.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4119"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}